Spread the love

Industri makanan dan minuman (mamin) nasional masih menghadapi tantangan serius terkait ketergantungan bahan baku impor. Para pelaku usaha mengungkapkan, sebagian besar bahan baku utama—mulai dari gandum, gula rafinasi, susu bubuk, hingga bahan tambahan pangan—hingga kini masih harus didatangkan dari luar negeri.

Ketua asosiasi pelaku industri mamin menyebut, ketergantungan impor tersebut membuat biaya produksi menjadi tidak stabil, terutama ketika nilai tukar rupiah melemah atau terjadi gangguan rantai pasok global. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada daya saing produk dalam negeri.

“Bahan baku impor porsinya masih dominan. Ketika kurs naik atau ada hambatan logistik, biaya produksi langsung melonjak dan itu sulit dihindari,” ujar seorang pengusaha mamin saat ditemui di Jakarta.

Menurutnya, tidak semua bahan baku bisa langsung digantikan oleh produk lokal karena keterbatasan pasokan, kualitas, maupun konsistensi produksi dalam negeri. Gandum, misalnya, masih sepenuhnya bergantung pada impor karena Indonesia bukan negara produsen.

Selain itu, pengusaha juga mengeluhkan proses perizinan impor yang dinilai semakin kompleks dan memakan waktu. Kebijakan tersebut, meski bertujuan melindungi industri hulu dalam negeri, kerap menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha di sektor hilir.

“Kami mendukung substitusi impor, tapi realitanya industri butuh kepastian pasokan. Kalau bahan baku lokal belum siap, jangan sampai industri mamin yang justru tertekan,” tambahnya.

Di sisi lain, pelaku usaha mendorong pemerintah untuk mempercepat penguatan industri bahan baku dalam negeri, termasuk sektor pertanian, peternakan, dan industri kimia pangan. Insentif fiskal, kemudahan investasi, serta dukungan teknologi dinilai krusial agar ketergantungan impor bisa ditekan secara bertahap.

Industri makanan dan minuman sendiri merupakan salah satu sektor andalan manufaktur nasional dengan kontribusi besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja. Para pengusaha berharap kebijakan pemerintah ke depan dapat lebih seimbang antara perlindungan industri hulu dan keberlangsungan industri hilir.

“Kalau bahan baku kuat di dalam negeri, industri mamin juga akan lebih tangguh dan harga ke konsumen bisa lebih terjaga,” tutup pengusaha tersebut.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *