Spread the love

Jakarta, 9 Februari 2026 – Thomas Djiwandono telah secara resmi disumpah dan dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) hari ini setelah sebelumnya disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjabat dalam periode 2026–2031.

Pelantikan tersebut menjadi puncak dari proses pengangkatan yang dimulai sejak akhir Januari 2026, ketika DPR RI menyetujui pencalonannya dalam Rapat Paripurna DPR menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Juda Agung yang mengundurkan diri.

Proses Politikus Jadi Pejabat Moneter

Thomas Djiwandono diajukan sebagai calon Deputi Gubernur BI dan mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) oleh Komisi XI DPR RI, yang berlangsung pada akhir Januari. Proses ini diikuti tiga kandidat, dan Thomas dinyatakan unggul melalui kesepakatan bersama anggota komisi.

DPR menyatakan bahwa kehadiran Thomas di Dewan Gubernur BI diharapkan dapat memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter – mengingat latar belakangnya sebagai Wakil Menteri Keuangan sebelum diangkat menjadi deputi BI.

Latar Belakang dan Karier

Thomas Djiwandono bukan figur yang asing di dunia pemerintahan. Sebelumnya ia menjabat sebagai Deputy Minister of Finance (Wakil Menteri Keuangan) dalam Kabinet Indonesia Maju. Selain itu, ia juga memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi dan keuangan serta pernah menjabat sebagai pengurus partai politik sebelum mengundurkan diri sesuai ketentuan agar tidak lagi merangkap jabatan politik saat mengisi posisi di Bank Indonesia.

Secara keluarga, Thomas adalah keponakan dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, fakta yang sempat memicu sorotan publik dan kekhawatiran terhadap independensi BI sebagai bank sentral.

Isu Independensi dan Respon Pemerintah

Penunjukan Thomas memicu perdebatan di kalangan pengamat ekonomi dan investor terkait kemandirian operasional Bank Indonesia. Beberapa pihak khawatir hubungan keluarga dengan Presiden bisa menimbulkan persepsi campur tangan politik dalam kebijakan moneter.

Namun, pemerintah dan pejabat DPR menegaskan bahwa keputusan di Bank Indonesia diambil secara kolektif oleh Dewan Gubernur, dan bahwa struktur kolegial lembaga itu memastikan independen tetap terjaga. Thomas sendiri menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi BI dalam pernyataan resmi pascapengesahan.

Dampak Pasar dan Strategi BI

Kabar tentang nominasi Thomas sempat berpengaruh pada sentimen pasar, termasuk pada nilai tukar rupiah yang sempat melemah ke titik terendah karena kekhawatiran investor. Namun setelah Bank Indonesia mempertahankan kebijakan suku bunga dan pasar memproses kabar pelantikan, situasi pasar mulai lebih stabil.

Kesimpulan

Dengan dilantiknya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031, BI kini memiliki pucuk pimpinan baru yang membawa pengalaman lintas fiskal dan moneter. Meski terdapat perdebatan mengenai independensi bank sentral, semua pihak menegaskan komitmen untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global dan domestik.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *