Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi perhatian pelaku pasar global setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Sejumlah analis menilai bahwa harga Bitcoin berpotensi menembus level USD 76.000 apabila situasi di jalur distribusi energi tersebut kembali normal dan tekanan terhadap pasar global mereda.
Saat ini, Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar keuangan dunia. Jalur laut tersebut merupakan rute vital bagi perdagangan minyak global, sehingga gangguan sedikit saja dapat memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Ketika kondisi pasar tidak stabil, aset berisiko seperti kripto cenderung mengalami volatilitas tinggi.
Ketegangan Hormuz tekan aset berisiko

Dalam beberapa pekan terakhir, harga Bitcoin bergerak fluktuatif di kisaran USD 66.000 hingga USD 70.000 seiring meningkatnya konflik di sekitar Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak akibat ancaman gangguan pasokan energi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Analis pasar menyebut bahwa ketika harga minyak naik tajam, tekanan inflasi meningkat dan bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi ini biasanya membuat investor menarik dana dari aset spekulatif dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS atau obligasi pemerintah.
Namun sebaliknya, jika ketegangan mereda dan jalur Hormuz kembali normal, pasar global berpotensi pulih dengan cepat. Dalam skenario tersebut, Bitcoin diperkirakan bisa melanjutkan tren naik karena likuiditas kembali masuk ke pasar kripto.
Sinyal bullish jika risiko energi mereda
Beberapa pengamat kripto menyebut bahwa harga Bitcoin bisa bergerak ke level USD 76.000 apabila harga minyak turun dan sentimen risiko membaik. Hal ini pernah terjadi sebelumnya ketika komentar terkait pengamanan Selat Hormuz membuat harga minyak melemah dan pasar kripto langsung menguat.
Penurunan harga energi biasanya menurunkan tekanan inflasi global, sehingga membuka peluang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Kondisi tersebut sering dianggap positif bagi aset digital karena investor kembali mencari peluang pertumbuhan yang lebih tinggi.
Selain itu, Bitcoin juga semakin sering dipandang sebagai aset lindung nilai alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik. Dalam situasi tertentu, ketegangan global justru dapat mendorong permintaan terhadap kripto, terutama jika terjadi kekhawatiran terhadap stabilitas mata uang fiat.
Jalur Hormuz sangat menentukan pasar global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati wilayah tersebut, sehingga gangguan kecil sekalipun dapat memicu lonjakan harga energi dan mengguncang pasar keuangan internasional.
Dalam kondisi terbaru, sejumlah negara bahkan membahas upaya internasional untuk menjaga keamanan jalur tersebut agar distribusi minyak tetap lancar. Jika upaya tersebut berhasil, maka risiko terhadap ekonomi global akan menurun dan investor diperkirakan kembali masuk ke pasar saham maupun kripto.
Kondisi stabil di sektor energi biasanya diikuti oleh meningkatnya minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, Ethereum, dan altcoin lainnya.
Bitcoin masih di fase konsolidasi
Saat ini, pergerakan Bitcoin dinilai masih berada dalam fase konsolidasi setelah sempat mengalami kenaikan tajam di awal tahun. Harga yang bertahan di sekitar USD 70.000 menunjukkan bahwa pasar masih menunggu kepastian dari faktor makro, terutama terkait konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga global.
Jika tekanan geopolitik berlanjut, harga Bitcoin bisa tertahan atau bahkan turun karena investor memilih menunggu situasi lebih jelas. Namun jika jalur Hormuz kembali normal dan harga minyak stabil, peluang kenaikan ke level baru terbuka lebih lebar.
Peluang tembus rekor baru masih terbuka
Sejumlah analis optimistis bahwa Bitcoin masih memiliki peluang mencetak rekor baru pada 2026, terutama jika kondisi ekonomi global mulai membaik. Target di atas USD 75.000 dianggap realistis selama likuiditas pasar meningkat dan tekanan inflasi mereda.
Selain faktor geopolitik, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi oleh arus dana institusi, perkembangan regulasi, serta minat investor ritel yang terus bertambah. Kombinasi faktor tersebut dapat mendorong harga bergerak lebih tinggi dalam waktu relatif singkat.
Untuk saat ini, pasar masih menunggu perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali normal dan risiko energi mereda, Bitcoin berpotensi melanjutkan tren naik dan menembus USD 76.000, sekaligus membuka peluang menuju level tertinggi baru tahun ini.
0 Comments