Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Iran kembali menggelar aksi protes anti-pemerintah yang besar pada 21–22 Februari 2026, menandai demonstrasi terbesar sejak penembakan dan penindakan keamanan pada Januari lalu. Aksi ini terjadi saat awal tahun ajaran baru dan bertepatan dengan upacara tradisional 40 hari (Chehelom) untuk mengenang para demonstran yang tewas dalam gelombang unjuk rasa sebelumnya.
Demonstrasi ini tercatat berlangsung di kampus-kampus besar seperti Sharif University of Technology, Amir Kabir University of Technology, Beheshti University, dan universitas di Mashhad.
Para mahasiswa meneriakkan slogan anti-rezim, termasuk seruan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta dukungan bagi perubahan politik yang lebih luas.
Kilas Balik Aksi dan Tekanan Rezim
Aksi terbaru ini merupakan lanjutan dari gelombang protes yang bermula akhir Desember 2025 akibat krisis ekonomi yang dalam dan ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan clerical Republik Islam Iran. Protes itu telah meluas menjadi tuntutan yang lebih politis, termasuk perubahan rezim.
Aksi awal bulan lalu sempat berujung pada penembakan massal di kota Rasht, dengan jumlah korban yang diperdebatkan namun diperkirakan mencapai ratusan hingga ribuan orang tewas dalam penindakan keras.
Pemerintah Iran secara resmi mengakui ribuan kematian akibat kerusuhan, namun angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi oleh organisasi HAM independen.
Clash dan Ketegangan di Kampus
Dalam unjuk rasa kali ini, beberapa aksi mahasiswa berubah tegang bahkan adu dorong dengan kelompok pro-pemerintah dan pasukan keamanan. Laporan media menunjukkan adegan mahasiswa menghadapi milisi Basij di luar beberapa kampus besar.
Kontak fisik dan bentrokan kecil dilaporkan terutama di lingkungan Sharif University, dengan batu dilemparkan dan langgar barikade.
Media independen menggambarkan suasana sebagai salah satu tantangan terbesar terhadap rezim sejak awal protes.
Konteks Internasional & Reaksi Politik
Demo ini mendapat sorotan internasional karena eskalasi ketegangan regional, termasuk meningkatnya tekanan dari negara-negara Barat atas kebijakan Iran, baik dari sisi hak asasi manusia maupun program nuklir.
Amerika Serikat telah mengkritik keras penindakan protes, sementara beberapa pakar internasional menyerukan agar Tehran membuka ruang dialog dengan rakyatnya.
Apa yang Dipersoalkan Mahasiswa?
Para mahasiswa menuntut:
Perubahan politik dan kebebasan sipil yang lebih luas.
Pertanggungjawaban pemerintah atas penindakan kekerasan sebelumnya.
Beberapa kelompok bahkan menyerukan pengakhiran rezim clerical dan reformasi konstitusional.
0 Comments