Davos – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam menegakkan hukum dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Hal itu disampaikan Prabowo saat menjadi pembicara dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.
Dalam forum ekonomi global tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah telah menutup sekitar 1.000 lokasi tambang ilegal yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Langkah tegas ini, menurutnya, merupakan bagian dari upaya serius pemerintah membenahi sektor sumber daya alam yang selama ini rawan pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan.
“Dalam beberapa bulan terakhir, kami telah menutup sekitar 1.000 tambang ilegal. Ini adalah pesan jelas bahwa Indonesia tidak mentoleransi praktik perusakan lingkungan dan ekonomi ilegal,” kata Prabowo di hadapan para pemimpin dunia, investor, dan pelaku industri global.
Prabowo menekankan, praktik pertambangan ilegal tidak hanya merugikan negara dari sisi penerimaan, tetapi juga berdampak besar terhadap lingkungan, masyarakat lokal, serta stabilitas sosial. Oleh karena itu, penertiban dilakukan secara terukur dengan melibatkan aparat penegak hukum dan kementerian terkait.
Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia tetap terbuka terhadap investasi, termasuk di sektor pertambangan dan energi, namun menegaskan bahwa investasi tersebut harus mematuhi prinsip keberlanjutan, tata kelola yang baik, dan kepatuhan hukum.
“Kami menyambut investor yang bertanggung jawab. Indonesia ingin tumbuh, tetapi pertumbuhan itu harus adil, bersih, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga memaparkan visi pemerintah dalam memperkuat hilirisasi industri, transisi energi, serta peningkatan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Ia menilai kebijakan tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional dan masyarakat.
Pernyataan Prabowo di WEF Davos mendapat perhatian luas, mengingat isu pertambangan, lingkungan, dan keberlanjutan menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan ekonomi dunia tahun ini.
0 Comments