Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat membuat kalangan pengusaha di dalam negeri semakin waswas. Fluktuasi kurs yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai berpotensi menekan biaya produksi, menggerus margin keuntungan, hingga berdampak pada harga jual produk ke konsumen.
Sejumlah pelaku usaha, terutama di sektor manufaktur dan impor bahan baku, mengaku paling terdampak oleh pelemahan rupiah. Ketergantungan terhadap bahan baku dan barang modal impor membuat kenaikan nilai dolar langsung meningkatkan biaya operasional perusahaan.
βKalau rupiah terus melemah, beban produksi otomatis naik. Ini jadi dilema karena di sisi lain daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih,β ujar salah satu pengusaha industri pengolahan.
Tak hanya sektor manufaktur, pelaku usaha di bidang perdagangan dan energi juga merasakan tekanan serupa. Harga energi dan logistik yang sebagian besar menggunakan dolar AS turut terdorong naik, sehingga mempersempit ruang gerak dunia usaha untuk melakukan ekspansi.
Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat hingga ketegangan geopolitik yang memicu arus modal keluar dari negara berkembang. Situasi tersebut membuat nilai tukar rupiah rentan bergejolak dalam jangka pendek.
Pengusaha berharap pemerintah dan Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan yang tepat. Intervensi di pasar valuta asing, penguatan cadangan devisa, serta kebijakan fiskal yang mendukung dunia usaha dinilai penting untuk meredam dampak pelemahan rupiah.
Di sisi lain, pengusaha juga mulai melakukan langkah antisipasi, seperti efisiensi biaya, penyesuaian kontrak, hingga lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan risiko kurs. Namun, mereka menilai stabilitas ekonomi makro tetap menjadi kunci utama agar dunia usaha dapat bergerak lebih tenang.
Jika pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, dikhawatirkan akan menekan investasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, otoritas moneter, dan pelaku usaha menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi Indonesia.
0 Comments