JAKARTA — Pelatih timnas futsal Indonesia, Hector Souto Vazquez, kembali mencuri perhatian media jelang duel final Piala Asia Futsal 2026 melawan raksasa futsal Asia, Iran, Sabtu (7/2) di Indonesia Arena, Jakarta. Souto menunjukkan karakter mental kuat dan percaya diri tinggi meski lawannya memiliki reputasi luar biasa di pentas futsal kontinental.
Indonesia sedang mencetak sejarah: untuk pertama kalinya tampil di partai puncak turnamen futsal paling bergengsi di Asia setelah mengalahkan Jepang 5–3 di semifinal. Sementara Iran sudah berada di final edisi ke-16 mereka dengan koleksi 13 gelar juara — dominasi yang membuat banyak pihak menjagokan tim “Raja Futsal Asia”.
Namun, ketika seorang jurnalis menyinggung bahwa gelar sudah seakan milik Iran, Souto tidak setuju. Dengan nada tegas dan sedikit sindiran, ia balik bertanya: “Memangnya Iran sudah jadi juara? Kalau Anda berpikir begitu, silakan rayakan bersama mereka.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa bagi pelatih asal Spanyol ini, juara hanya akan ditentukan di lapangan, bukan di atas kertas.
Bagi Souto, status Iran sebagai tim tersukses tidak serta-merta membuat Indonesia merasa inferior. Dia justru menekankan bahwa final adalah perebutan gelar, bukan pra-penyerahan trofi. “Trofi itu masih harus diperebutkan… kami akan memainkan kartu kami,” ujar Souto, menegaskan keyakinannya bahwa hasil pertandingan bisa jauh berbeda dari prediksi statistik.
Tekanan Justru di Pihak Iran
Souto punya filosofi unik soal tekanan. Alih-alih timnya yang merasa tertekan, ia menyatakan bahwa Iran yang seharusnya merasakan beban berat. Sebagai juara bertahan dan tim yang hampir selalu lolos final, Iran dianggap wajib tampil dominan. “Bagaimana mungkin kami tertekan jika ini final pertama kami? Iranlah yang harus menang. Itu beban mereka,” katanya di konferensi pers pra-pertandingan.
Mentalitas tanpa takut ini juga terlihat dari pendekatan Souto dalam memimpin sesi latihan dan pemulihan tim. Ia lebih fokus pada strategi, kebugaran, dan kesiapan mental dibanding terjebak angka sejarah lawan yang panjang.
Modal Sejarah dan Kepercayaan Diri
Souto bahkan memanfaatkan sejarah sebagai sumber motivasi. Ia mengingatkan bahwa Iran pernah kalah di Piala Asia Futsal dari tim yang dilatih pelatih asal Spanyol — sebuah fakta yang ia anggap sebagai inspirasi bagi timnya untuk menantang dominasi lawan.
Sikap Souto ini lantas memberikan efek positif pada skuad Garuda. Para pemain diyakini semakin percaya diri melangkah ke final, tahu bahwa tekanan besar justru berada di pundak lawan yang sudah berkali-kali berdiri di puncak.
0 Comments