Jakarta — Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menegaskan hingga saat ini pihaknya tidak menerima laporan terkait kemahalan harga sewa terminal bahan bakar minyak (BBM) yang dikelola maupun disewa oleh Pertamina.
Ahok mengatakan isu mahalnya biaya sewa terminal BBM kerap muncul di ruang publik, namun tidak disertai data dan laporan resmi yang dapat diverifikasi. Menurutnya, setiap kerja sama sewa terminal BBM di lingkungan Pertamina telah melalui proses kajian bisnis dan pengawasan internal yang ketat.
“Sepanjang yang saya tahu, tidak ada laporan bahwa harga sewa terminal BBM itu kemahalan. Semua kontrak sewa dievaluasi dan diaudit,” ujar Ahok kepada wartawan, Senin (—).
Ia menjelaskan, Pertamina memiliki mekanisme pengawasan berlapis, mulai dari kajian keekonomian, pengawasan manajemen, hingga audit internal dan eksternal. Jika ditemukan indikasi ketidakwajaran harga, kata Ahok, pasti akan langsung ditindaklanjuti.
Ahok juga menekankan bahwa penyewaan terminal BBM dilakukan untuk menjamin kelancaran distribusi energi nasional, terutama di wilayah yang belum memiliki infrastruktur penyimpanan milik Pertamina sendiri. Dalam kondisi tertentu, sewa terminal dinilai lebih efisien dibandingkan membangun fasilitas baru.
“Kalau memang lebih murah dan lebih cepat sewa daripada bangun, itu pilihan yang rasional. Tapi semua harus transparan dan sesuai aturan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ahok mempersilakan aparat penegak hukum maupun lembaga pengawas untuk menelusuri apabila ada dugaan penyimpangan. Menurutnya, keterbukaan menjadi kunci agar isu-isu yang beredar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Kalau ada data dan laporan resmi, silakan dibuka. Kami tidak keberatan diperiksa,” pungkas Ahok.
0 Comments