Jakarta — Mantan Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, melontarkan pernyataan yang menyita perhatian publik saat memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan korupsi tata niaga minyak. Di hadapan majelis hakim, Ahok menyebut lapangan golf kerap dijadikan tempat negosiasi karena dianggap sebagai lokasi “paling murah” untuk bertemu.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahok ketika menjelaskan praktik komunikasi dan lobi yang kerap terjadi di sektor migas. Menurutnya, pertemuan di lapangan golf sering dipilih lantaran terkesan informal, minim jejak administratif, dan relatif sulit diawasi.
“Golf itu tempat negosiasi paling murah. Tidak perlu sewa ruangan, tidak ada notulen resmi, tapi bisa ngobrol lama,” ujar Ahok di persidangan.
Ahok menilai, budaya negosiasi semacam itu berpotensi membuka celah penyimpangan, terutama dalam bisnis strategis seperti minyak dan gas. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya membenahi tata kelola BUMN energi.
Dalam kesaksiannya, Ahok juga menyinggung sulitnya pengawasan internal jika komunikasi penting dilakukan di luar forum resmi. Menurutnya, transparansi menjadi kunci utama untuk mencegah praktik korupsi di sektor migas yang melibatkan nilai transaksi sangat besar.
“Kalau semua dibicarakan di ruang resmi dan tercatat, pengawasan jadi jelas. Masalahnya, banyak hal justru dibicarakan di luar sistem,” tambahnya.
Sidang kasus minyak ini menjadi sorotan karena menyeret sejumlah nama penting dan diduga merugikan keuangan negara dalam jumlah signifikan. Kesaksian Ahok dinilai memperkuat dugaan adanya praktik lobi nonformal yang selama ini sulit dibuktikan secara hukum.
Pengadilan akan melanjutkan pemeriksaan saksi lainnya guna mendalami pola komunikasi dan pengambilan keputusan dalam kasus tersebut. Sementara itu, pernyataan Ahok soal “golf sebagai tempat negosiasi” memicu perbincangan luas di publik dan media sosial, terutama terkait budaya lobi di kalangan elite bisnis dan pejabat.
0 Comments