Krisis di Iran terus menjadi sorotan dunia. Aksi protes yang awalnya dipicu oleh permasalahan ekonomi cepat berubah menjadi gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang meluas, menantang struktur pemerintahan teokratis di negara tersebut.

Aksi Protes Meluas di Berbagai Kota

Gelombang protes yang dimulai akhir Desember telah memasuki pekan ketiga dengan massa yang semakin besar turun ke jalan di berbagai kota besar seperti Teheran, Mashhad, dan sejumlah provinsi lainnya. Aksi ini tidak hanya terjadi di ibu kota, tetapi juga tersebar ke puluhan wilayah di seluruh negeri, meskipun pemerintah berusaha keras membatasinya.

Para pengunjuk rasa, yang awalnya menuntut perbaikan ekonomi di tengah inflasi tinggi dan runtuhnya mata uang lokal, kini banyak yang menyerukan perubahan politik yang lebih luas dan pembubaran rezim teokratik yang sudah berkuasa bertahun-tahun.

Pemutusan Internet dan Isolasi Informasi

Untuk mengekang koordinasi demonstran dan pembagian informasi, pemerintah Iran telah memutus akses internet hampir total, termasuk layanan pesan dan jaringan telekomunikasi internasional, sejak 8 Januari 2026. Hal ini membuat penilaian situasi secara real-time dari dalam negeri menjadi sangat sulit.

Langkah ini dipandang sebagai upaya rezim untuk menghambat laporan melalui video, media sosial, atau komunikasi luar negeri, sehingga kontrol narasi dan pembatasan informasi menjadi pusat strategi pemerintah.

Jumlah Korban dan Kekerasan dalam Unjuk Rasa

Organisasi aktivis HAM melaporkan bahwa sedikitnya 116 orang tewas dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan sejak protes meluas, dengan lebih dari 2.600 orang ditahan.

Jumlah korban diperkirakan bisa lebih tinggi karena kurangnya akses ke data yang andal akibat blackout internet dan pembatasan media. Beberapa laporan independen bahkan menyebut rumah sakit kewalahan menangani korban dan cedera dari tembakan langsung aparat.

Respons Pemerintah dan Ancaman Hukuman

Pemerintah Iran menanggapi protes dengan tegas, bahkan mengancam hukuman berat, termasuk hukuman mati, terhadap mereka yang terlibat atau dianggap membantu demonstran. Pihak berwenang mengkategorikan para pengunjuk rasa sebagai “musuh negara” dan “sabotir”.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan pejabat tinggi lainnya telah memperingatkan akan tindakan keras terhadap apa yang mereka nilai sebagai kekacauan dan intervensi asing.

Reaksi Internasional

Krisis ini juga menarik perhatian internasional. Beberapa negara Barat mengecam kekerasan terhadap demonstran dan menyerukan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sementara itu, pemerintah Iran memperingatkan pihak asing agar tidak ikut campur, bahkan mengisyaratkan bahwa pasukan luar seperti AS atau Israel bisa menjadi target balasan jika terjadi intervensi militer.

Tokoh oposisi seperti Reza Pahlavi, anggota pemerintahan Iran yang berada di pengasingan, mengimbau demonstran untuk terus berjuang dan tidak meninggalkan jalanan.

Situasi Saat Ini dan Tantangan ke Depan

Protes ini merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Iran, dengan jutaan orang terlibat meskipun ada tindakan keras dan pembatasan komunikasi. Ketegangan politik serta dampak ekonomi yang mendalam tetap menjadi faktor yang memperparah situasi.

Dengan akses terbatas untuk media dan organisasi HAM, gambaran penuh dari krisis ini masih sulit dipetakan, dan angka korban bisa terus berubah seiring berjalannya waktu.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *